View Merapi Merbabu

Sejoli gunung Merapi Merbabu tampak cerah menghijau.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 22 Juni 2011

Rumah Budaya Tembi, Surga Budaya dan Alam Bantul, Yogyakarta

Satu lagi tempat yang menawarkan keindahan budaya Jawa dan pesona alam pedesaan di Yogyakarta, Tembi Rumah Budaya. Berlokasi di Jalan Parangtritis Km 8,4, Tembi, Timbulharjo, Sewon, Bantul, 55188 DIY.

Tembi Rumah Budaya merupakan gagasan seorang Budayawan Jogja yang menginginkan sebuah tempat sebagai pusat berkreasi produk dengan kualitas tinggi berdasar kebudayaan lokal sehingga kedepannya masyarakat Indonesia mampu menjadi bagian masyarakat dunia yang kreatif dengan mengangkat kebudayaan lokal sebagai ciri khas karyanya.

Rumah Budaya Tembi menyediakan berbagai macam fasilitas, fasilitas yang paling diunggulkan adalah Balai Inap (lodging house). Terdapat 9 buah balai inap yang merupakan rumah asli penduduk, dimana rumah tersebut bernuansakan etnik dan terbuat dari kayu jati yang dipindahkan ke lokasi Rumah Budaya Tembi.

Selain itu terdapat pula Bale Dokumentasi, Bale Rupa, Bale Karya (Open Hall Theatre), Warung Dhahar, Kolam Renang, Pendopo, Angkringan, dll. Kolam Renang di Rumah Budaya Tembi diperuntukan bagi masyarakat umum, dengan harga tiket Rp 15.300,00 (include soft drink dan handuk) anda dapat menikmati indahnya pemandangan langsung desa tembi dengan hamparan sawah yang luas dan udara yang segar.

Semua fasilitas di Rumah Budaya Tembi dikemas secara sempurna dengan nuansa budaya, alam yang nyaman, asri, dan mempesona.Selamat menikmati indahnya Bantul

http://ceritajogja.com/wisata_detail.php?page=5&act=view&id=85

Kerangka manusia ditemukan di barak pengungsian

SLEMAN: Kerangka manusia korban erupsi Merapi kembali ditemukan di dusun Glagahmalang, Glagaharjo, Cangkringan, Senin (20/6). Kerangka tersebut ditemukan tepat di bawah toilet portable barak pengungsian Glagahmalang yang sudah rusak.

Kerangka yang ditemukan tidak utuh, hanya tulang belulang dari dada sampai kaki. Bagian tengkorak sampai sekarang belum berhasil ditemukan. Diperkirakan kerangka itu adalah jenazah relawan yang saat terjadi erupsi 5 November 2010 tengah bertugas menunggu logistik.

Informasi yang dihimpun Harian Jogja menyebutkan, penemuan kerangka itu bermula dari laporan warga Singlar bernama Rumi pada Senin (20/6) sore. Ketika melintas di sekitar truk toilet yang miring itu ia melihat tulang yang muncul dari bawah truk. Karena yakin itu bukan tulang hewan, penemuan itu dilaporkan kepada Komunitas Siaga Merapi (KSM) untuk ditindaklanjuti.

Keesokan harinya Selasa (21/6) dilakukan pencarian kerangka. Terkumpul kerangka mulai dari kaki hingga dada.

Salah satu relawan yang juga warga Glagahmalang, Sutimin, 53, mengatakan kerangka badan utuh ditemukan dalam satu tempat. Posisi korban tengkurap membujur ke utara.

Karena persis di bawah toilet, kemungkinan jenazah tertimpa truk tersebut. “Tapi tengkoraknya dicari-cari belum berhasil ditemukan,” kata Sutimin, Rabu (23/6). Tulang tersebut kini sudah dikirim ke RS Sardjito.(Harian Jogja/Galih Kurniawan)

Foto: Sutimin, 53, tengah menunjukkan lokasi penemuan tulang, Rabu (22/6). (Harian Jogja/Akhirul Anwar)

Rabu, 08 Juni 2011

Malioboro, Sebuah Ikon Kota Jogja

Membentang di atas sumbu imajiner yang menghubungkan Kraton Yogyakarta, Tugu dan puncak Gunung Merapi, jalan ini terbentuk menjadi suatu lokalitas perdagangan setelah Sri Sultan Hamengku Buwono I mengembangkan sarana perdagangan melalui sebuah pasar tradisional semenjak tahun 1758. Setelah berlalu 248 tahun, tempat itu masih bertahan sebagai suatu kawasan perdagangan bahkan menjadi salah satu ikon Yogyakarta yang dikenal dengan Malioboro.

Terletak sekitar 800 meter dari Kraton Yogyakarta, tempat ini dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Kraton melaksanakan perayaan. Malioboro yang dalam bahasa sansekerta berarti "karangan bunga" menjadi dasar penamaan jalan tersebut.

Diapit pertokoan, perkantoran, rumah makan, hotel berbintang dan bangunan bersejarah, jalan yang dulunya sempat menjadi basis perjuangan saat agresi militer Belanda ke-2 pada tahun 1948 juga pernah menjadi lahan pengembaraan para seniman yang tergabung dalam komunitas Persada Studi Klub (PSK) pimpinan seniman Umbul Landu Paranggi semenjak tahun 1970-an hingga sekitar tahun 1990.

Jalan Malioboro merupakan nama salah satu jalan dari tiga jalan di Kota Yogyakarta yang membentang dari Tugu Yogyakarta hingga ke perempatan Kantor Pos Yogyakarta. Secara keseluruhan terdiri dari Jalan Pangeran Mangkubumi, Jalan Malioboro dan Jalan Jend. A. Yani. Terdapat beberapa obyek bersejarah di kawasan tiga jalan ini antara lain Tugu Yogyakarta, Stasiun Tugu, Gedung Agung, Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg dan Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

Tugu Yogyakarta
Tugu Yogyakarta adalah salah satu bangunan peninggalan Sultan Hamengku Buwana I. Pembangunan Tugu tersebut dilakukan untuk memperingati rasa kebersamaan raja (pada waktu itu Pangeran Mangkubumui) dengan rakyat yang bersatu padu melawan Belanda sehingga Pangeran Mangkubumi mendapatkan tanah Mataram. Tugu tersebut dibangun setahun setelah Perjanjian Gianti. Ketinggian Tugu pada waktu dibangun pertama kali adalah 25 meter.

Posisi Tugu Yogyakarta sekarang berada di tengah perempatan jalan besar yakni yang membujur ke utara adalah Jalan AM. Sangaji ke timur Jl. Jenderal Sudirman, ke selatan Jl. Pangeran Mangkubumi-Malioboro, ke barat Jl. Pangeran Dipanegara. Puncak tugu tersebut pada awalnya sebagai titik pandangan Sultan sewaktu menghadiri upacara Grebeg di Bangsal Manguntur, di Sitihinggil Lor.

Dalam bahasa Belanda Tugu Yogyakarta ini lebih terkenal dengan sebutan white paal (tugu putih). Sedangkan masyarakat Yogyakarta generasi tua sering menyebutnya Tugu Pal Putih. Di samping itu, masyarakat Yogyakarta juga sering menyebutnya Tugu Golong Gilig. Hal itu tidak terlepas dari ciri-ciri fisik bangunan itu. Warna putih yang melingkupi seluruh tubuh tugu itu menjadikannya lebih terkenal dengan sebutan Tugu Pal Putih.

Stasiun Tugu
Stasiun utama di kota gudeg ini terletak tepat di jantung kota dan dekat dengan berbagai objek wisata menarik. Turun dari kereta di stasiun ini, anda tak perlu membuang waktu untuk menjangkau hotel dan pusat belanja. Kawasan Malioboro yang terletak tepat di sebelah selatan stasiun menawarkan sejumlah hotel berbintang maupun melati serta pusat belanja tradisional maupun modern.

Stasiun Tugu mulai melayani kebutuhan transportasi sejak 2 Mei 1887, sekitar 15 tahun setelah Stasiun Lempuyangan. Awalnya, stasiun ini hanya digunakan untuk transit kereta pengangkut hasil bumi dari daerah di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Namun sejak 1 Februari 1905, stasiun ini mulai digunakan untuk transit kereta penumpang. Jalur luar kota pertama dibangun tahun 1899, menghubungkan yogyakarta dan Surakarta.

Karena dibangun pada masa kolonial Belanda, maka arsitektur bangunannya pun sangat kental dengan nuansa Eropa. Begitu turun dari kereta, anda akan langsung mengenalinya dari pintu-pintu besar berwarna coklat serta langit-langit yang tinggi dimantapkan dengan warna dinding yang putih. Anda juga bisa menikmati pesona bangunan stasiun yang hingga sekarang masih dipertahankan keasliannya dari depan. Bangunan tampak megah dengan pintu besar dan dua atap yang memayungi jalur kereta

Gedung Agung
Sedangkan Gedung Agung yang terletak di depannya pernah menjadi tempat kediaman Kepala Administrasi Kolonial Belanda sejak tahun 1946 hingga 1949. Selain itu sempat menjadi Istana Negara pada masa kepresidenan Soekarno ketika Ibukota Negara dipindahkan ke Yogyakarta.

Pasar Beringharjo
Selain wisatawan bisa menjumpai barang-barang sejenis yang dijual di sepanjang arcade, pasar ini menyediakan beraneka produk tradisional yang lebih lengkap. Selain produk lokal Jogja, juga tersedia produk daerah tetangga seperti batik Pekalongan atau batik Solo. Mencari batik tulis atau batik print, atau sekedar mencari tirai penghias jendela dengan motif unik serta sprei indah bermotif batik. Tempat ini akan memuaskan hasrat berbelanja barang-barang unik dengan harga yang lebih murah.
Berbelanja di kawasan Malioboro serta Beringharjo, pastikan tidak tertipu dengan harga yang ditawarkan. Biasanya para penjual menaikkan harga dari biasanya bagi para wisatawan.

Benteng Vredeburg

Di penghujung jalan "karangan bunga" ini, wisatawan dapat mampir sebentar di Benteng Vredeburg yang berhadapan dengan Gedung Agung. Benteng ini dulunya merupakan basis perlindungan Belanda dari kemungkinan serangan pasukan Kraton. Seperti lazimnya setiap benteng, tempat yang dibangun tahun 1765 ini berbentuk tembok tinggi persegi melingkari areal di dalamnya dengan menara pemantau di empat penjurunya yang digunakan sebagai tempat patroli.

Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.
Monumen ini terletak di kawasan Nol kilometer, berada satu kompleks dengan Benteng Vredeburg yaitu tepat di depan Kantor Pos Besar Yogyakarta.. Monumen ini dibangun untuk memperingati serangan tentara Indonesia terhadap Belanda pada tanggal 1 Maret 1949. Serangan ini dilakukan untuk membuktikan kepada dunia bahwa Indonesia masih memiliki kekuatan untuk melawan Belanda. Saat itu serangan Tentara Nasional Indonesia (TNI) dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto, Komandan Brigade 10 daerah Wehrkreise III, yang tentu saja setelah mendapat persetujuan dari Sri Sultan Hamengkubuwono IX sebagai Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta. Sesuai dengan tanggal penyerbuan,monument yang diresmikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1973 ini diberi nama Monumen Serangan Oemoem 1 Maret.

Kawasan Malioboro merupakan salah satu kawasan wisata belanja andalan kota Jogja yang didukung oleh adanya pertokoan, rumah makan, pusat perbelanjaan, dan tak ketinggalan para pedagang kaki limanya. Banyaknya pedagang kaki lima yang berjajar sepanjang jalan Malioboro menjajakan dagangannya, hampir semuanya yang ditawarkan adalah barang/benda khas Jogja sebagai souvenir/oleh-oleh bagi para wisatawan. Mereka berdagang kerajinan rakyat khas Jogjakarta, antara lain kerajinan anyaman rotan, kulit, batik, perak, bambu dan lainnya, dalam bentuk pakaian batik, tas kulit, sepatu kulit, hiasan rotan, wayang kulit, gantungan kunci bambu, sendok/garpu perak, blangkon batik [semacan topi khas Jogja/Jawa], kaos dengan berbagai model/tulisan dan masih banyak yang lainnya. Para pedagang kaki lima ini ada yang menggelar dagangannya diatas meja, gerobak adapula yang hanya menggelar plastik di lantai. Sehingga saat pengunjung Malioboro cukup ramai saja antar pengunjung akan saling berdesakan karena sempitnya jalan bagi para pejalan kaki karena cukup padat dan banyaknya pedagang di sisi kanan dan kiri.

Di malam hari banyak warung-warung lesehan yang menjual makanan gudeg khas jogja serta terkenal sebagai tempat berkumpulnya para seniman-seniman yang sering mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim dan lain-lain disepanjang jalan ini.

Sumber:
http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/market/malioboro/
http://id.wikipedia.org/wiki/Jalan_Malioboro
http://www.smilejogja.com/serba-serbi/wisata-jogja/malioboro/
http://www.tembi.org/keraton_yogja/tugu.htm

Rabu, 01 Juni 2011

PAGUYUBAN DUKUH MADUKORO DIDEKLARASIKAN ; Dukung Cabup Pro Penetapan Keistimewaan DIY

WATES (KR) - Perjuangan pro penetapan keistimewaan Yogyakarta dan Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kulonprogo menjadi pembahasan pada deklarasi Paguyuban Dukuh Kabupaten Kulonprogo ‘Madukoro’ sekaligus pengukuhan Satuan Tugas (Satgas) Penetapan Keistimewaan DIY Kulonprogo di Gedung Kesenian Wates, Selasa (31/5).

Acara yang diikuti ratusan dukuh se-Kulonprogo dihadiri GBPH Prabukusumo, Bupati Kulonprogo H Toyo Santoso Dipo, Ketua Paguyuban Kades DIY H Muh Mulyadi, Ketua Paguyuban Dukuh DIY Semar Sembogo Sukiman Hadi Wijoyo, para camat dan kades di Kulonprogo.

Prabukusumo pada kesempatan tersebut menegaskan akan membawa ke Mahkamah Konstitusi (MK), jika pengisian Gubernur dan Wakil Gubernur DIY melalui pemilihan. Jika upaya hukum juga tidak berhasil, dalam pemilu presiden mendatang masyarakat Yogyakarta hanya mendukung calon presiden yang pro penetapan Sultan dan Paku Alam (PA) sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DIY.

“Dalam Pemilukada Kulonprogo dan Kota Yogya, kami hanya mendukung pasangan cabup maupun cawali yang mendukung keistimewaan Yogyakarta pro penetapan,” tegas Prabukusumo.

Sebelumnya, Ketua Umum Madukoro Mugiyatno menjelaskan, siap berjuang demi keistimewaan DIY. “Paguyuban Dukuh Madukoro, bukan parpol dan tidak akan berpolitik. Namun untuk memperjuangkan keistimewaan DIY, kami akan mendukung pasangan calon bupati yang mendukung penuh keistimewaan DIY dengan penetapan,” jelasnya.

Gudeg “Wijilan” Khasnya Jogja

Mau gudeg ya Jogja tempatnya. Di Jogja Anda akan temukan banyak sekali warung yang menjajakan makanan khas ini. Akan sangat nikmat bila disantap pada malam hari di lesehan-lesehan dipinggir jalan kota Jogja seperti di malioboro, apalagi suasana kota Jogja yang sangat khas dan ramah. Suasana seperti inilah yang membuat orang akan selalu mengenang dan ingin selalu kembali menikmati Gudeg di Jogja.

Menyebut gudeg Jogja, otomatis ingatan kita akan tertuju pada sebuah kampung yang terletak di sebelah timur Alun-alun Utara Kraton Jogja. Dari kampung inilah, masakan khas yang berbahan dasar ‘gori’ ini menjadi populer hingga seantero dunia. Tak heran wisatawan yang berkunjung ke Jogja rasanya kurang lengkap jika belum menyantap gudeg di tempat ini.

Warung gudeg yang berderet di sebelah selatan Plengkung Tarunasura (Plengkung Wijilan) ini memiliki sejarah panjang. Ibu Slamet adalah orang pertama yang merintis usaha warung gudeg di tahun 1942. Beberapa tahun kemudian warung gudeg di daerah itu bertambah dua, yakni Warung gudeg Campur Sari dan Warung Gudeg Ibu Djuwariah yang kemudian dikenal dengan sebutan Gudeg Yu Djum yang begitu terkenal sampai sekarang.

Ketiga warung gudeg tersebut mampu bertahan hingga 40 tahun. Sayangnya, tahun 1980-an Warung Campur Sari tutup. Baru 13 tahun kemudian muncul satu lagi warung gudeg dengan label Gudeg Ibu Lies. Dan sampai sekarang, warung gudeg yang berjajar di sepanjang jalan Wijilan ini tak kurang dari sepuluh buah.

Gudeg Wijilan memang bercita rasa khas, berbeda dengan gudeg pada umumnya. Gudegnya kering dengan rasa manis. Cara memasaknya pun berbeda, buah nangka muda (gori) direbus di atas tungku sekitar 100 derajat celcius selama 24 jam untuk menguapkan kuahnya.

Sebagai lauk pelengkap, daging ayam kampung dan telur bebek dipindang yang kemudian direbus. Sedangkan rasa pedas merupakan paduan sayur tempe dan sambal krecek.

Ketahanan gudeg Wijilan ini memang cocok sebagai oleh-oleh, karena merupakan gudeg kering, maka tidak mudah basi dan mampu bertahan hingga 3 hari. Tak heran jika gudeg dari Wijilan ini sudah “terbang” ke berbagai pelosok tanah air, bahkan dunia.

Harganya pun variatif, mulai dari Rp 10.000,- sampai Rp 100.000,-, tergantung lauk yang dipilih dan jenis kemasannya. Bahkan ada yang menawarkan paket hemat Rp 5.000, dengan lauk tahu, tempe, dan telur.

Seperti kemasan gudeg-gudeg di tempat lain, oleh-oleh khas Jogja ini dapat dikemas menarik dengan menggunakan ‘besek’ (tempat dari anyaman bambu) atau menggunakan ‘kendil’ (guci dari tanah liat yang dibakar). Yang lebih unik, beberapa penjual gudeg Wijilan ini dengan senang hati akan memperlihatkan proses pembuatan gudegnya jika pengunjung menghendaki.

Bahkan, di warung Gudeg Yu Djum menawarkan paket wisata memasak gudeg kering bagi Anda yang ingin memasak sendiri. Anda akan mendapat arahan langsung dari Yu Djum. Seharian penuh Anda akan belajar membuat gudeg, dari mulai merajang ‘gori’, meracik bumbu, membuat telur pindang, sampai mengeringkan kuah gudeg di atas api.

Melengkapi sajian nasi gudeg Wijilan akan lebih pas disertai minuman teh poci gula batu. Dijamin Anda akan ketagihan.

http://bisnisukm.com/gudeg-wijilan-khasnya-jogja.html

Senin, 30 Mei 2011

Pasar Ngasem Dulu dan Sekarang

Daya tarik sektor pariwisata di Yogyakarta bukan hanya ada pada Keraton, Malioboro, atau bangunan-bangunan tua bersejarah yang tersebar di wilayahnya saja, tetapi juga pada tempat-tempat yang digunakan oleh masyarakatnya dalam beraktivitas sehari-hari. Salah satu lokasi/ tempat masyarakat Yogyakarta menjalankan aktivitas yang juga sebagai salah satu lokasi wisata legendaris adalah Pasar Ngasem.Pasar ngasem merupakan pasar tradisional yang khusus menjual hewan peliharaan terutama burung.

Tetapi selain burung juga terdapat hewan peliharaan yang lain yang dijual, antara lain kelinci, marmut, anjing, kucing, musang, monyet, ayam, penyu, biawak, tokek, iguana, mencit, jangkrik dan bahkan ular. Pasar ini dulu terletak di Kampung Ngasem dan Kampung Taman, Kecamatan Kraton, sekitar 400 meter arah barat dari Keraton Kasultanan Yogyakarta sebelum akhirnya direlokasi ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTHY) di kawasan Dongkelan, Jl. Bantul KM 1, Yogyakarta.

Menurut sejarahnya, kawasan Pasar Ngasem dahulunya merupakan danau yang sering digunakan Sultan Hamengku Buwono II berpelesir sambil melihat-lihat keindahan keraton dari luar benteng. Namun, sekian waktu berjalan danau tersebut beralih fungsi menjadi perkampungan dan di tengah-tengah kampung tersebut menjadi sebuah pasar yang khusus menjual burung. Keradaan Pasar Ngasem sendiri juga bisa memberikan info penting tentang apa yang dianggap bergengsi di masa kerajaan dahulu. Setelah kuda sebagai alat transportasi dan keris sebagai senjata, burung ada di tempat ketiga sebagai pengukur status sosial.

Pasar Ngasem berdasarkan sejarahnya telah ada sejak tahun 1809. Hal tersebut dibuktikan dengan sebuah foto yang menunjukkan Pasar Ngasem dengan barang dagangan utamanya berupa burung. Kemudian sekitar tahun 1960-an, pasar ini semakin identik dengan burung setelah pedagang burung dari pasar Beringharjo dipindahkan ke tempat ini. Bukan hal mengherankan bila banyak turis menyebut pasar ini dengan bird market karena areal perdagangan burung sepertiga dari luas pasar.

Setelah para pedagang di pasar Ngasem direlokasi ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTHY) di kawasan Dongkelan, Jl. Bantul KM 1, Yogyakarta pada 22 April 2010 lalu, pasar Ngasem terus direnovasi oleh pemerintah daerah Yogyakarta dan akan segera dibuka kembali. Pasar yang dulu dikenal dengan pasar burung dan hewan serta sayuran kini berubah menjadi pusat kerajinan dan seni serta gerbang masuk ke tamansari watercastle.

Pembangunan Pasar Ngasem sebagai Pusat Kerajinan dan Seni Yogyakarta (PKSY) diharapkan mampu mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan untuk datang ke Yogyakarta. Selain sebagai PKSY, lahan yang pernah digunakan sebagai Pasar Ngasem ini nantinya akan dijadikan sebagai pintu gerbang utama masuk ke obyek wisata Tamansari Yogyakarta.

Kawasan Pasar Ngasem ini memang difungsikan sebagai gerbang utama untuk masuk ke water castle Tamansari. Nantinya Tamansari dan Pasar Ngasem akan menyatu dan pintu masuk utamanya dipindah di utara. Menurut rencana, PKSY ini akan di launching Juni 2011 mendatang. Di kawasan ini juga masih ada pedagang pasar tradisional yang akan ditambah dengan pembangunan pasar suvenir dan teater pertunjukan. Ke depan, pasar ini akan dibelah menjadi dua, yaitu pasar cinderamata di sisi timur dan pasar tradisional di sisi barat.

Renovasi Pasar Ngasem ini tentunya sangat berdampak positif terhadap peningkatan jumlah kunjungan wisatawan di kawasan Tamansari dan Kraton Yogyakarta. Pasar Ngasem akan lebih banyak menonjolkan potensi seni yang terintegrasi dengan kawasan Tamansari dan Keraton yang bernuansa heritage. Dinas Pariwisata DIY sendiri juga menyambut baik penataan kawasan Ngasem Dan Tamansari ini, selain membuat kawasan Tamansari dan Ngasem lebih nyaman, juga dapat menambah daya tarik wisatawan dan penyebaran minat wisata dan belanja di Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta, pasar yang merupakan hasil relokasi dari Ngasem.

sumber:
http://gudeg.net/id/news/2010/04/5494/Kamis-Pasar-Ngasem-Boyongan-ke-Dongkelan.html
http://bisnisukm.com/menyusuri-wisata-budaya-pasar-ngasem.html
http://maharatu.com/news/detail/id/712/Pasar_Ngasem_Gerbang_Masuk_Tamansari

Jumat, 27 Mei 2011

Pedetnya berkaki tiga, Ahmadi tak tidur

Warga Dusun Sukun, Desa Patalan, Kecamatan Jetis sejak dua hari terakhir ini dihebohkan pedet berkaki tiga milik warga setempat, Ahmadi, 58, yang lahir pada Selasa (24/5) siang lalu.

Siang itu sekitar pukul 14.00 WIB, Ahmadi tidak sedang berada di rumah. Ia bersama istrinya, Sudalmi, 53, tengah berobat. Kelahiran pedet berkaki tiga itu diketahui oleh tetangganya. Kaget, tetanganya itu kemudian memanggil warga lainnya dan mendadak warga mengerumuni kandang sapi Ahmadi yang terdapat di perkarangan rumahnya di RT63.

“Saya baru pulang jam empat sore. Sampai rumah, warga sudah banyak yang berkumpul. Awalnya heran kenapa tapi setelah saya masuk, ternyata pedet saya berkaki tiga. Saya kaget,” ujar dia saat ditemui Harian Jogja di rumahnya, Rabu (25/5) kemarin.

Setelah kelahiran pedet itu, dia mengaku belum tidur karena warga banyak yang berdatangan dan harus menunggui pedetnya itu untuk memberikan susu. “Induk sapi belum lancar susunya sehingga saya mesti beli,” katanya.

Sampai Rabu kemarin Ahmadi sudah membeli susu sapi segar sebanyak tiga liter. Jika kondisi tak berubah, dia mengaku bakal kesulitan untuk memelihara sapi tersebut. “Satu liter sapi Rp6.000. Dalam sehari bisa tiga liter. Coba berapa dalam sebulan? Bisa lebih dari uang makan saya,” keluhnya.

Selama ini dia hanya menggaduh sapi saja, yang ketika melahirkan pedet, dia akan bagi hasil dengan tuannya. Dengan adanya kondisi pedet itu, bapak dua anak itu menanggung biaya perawatannya sendiri padahal sebagai petani dia juga tak memiliki penghasilan lebih.

Pendapatannya hanya cukup untuk makan sehari- sehari. “Saya pun tak punya sawah. Kalaupun bertani hanya sebagai buruh saja,” ujar Ahmadi. Bobot pedet itu sekitar 20 kilogram (kg). Ahmadi berharap ada uluran dari dinas terkait. Kalaupun memanfaatkan warga yang berdatangan dengan memungut retribusi,dia mengaku tak tega. “Tak sampai [hati] mas,” ucapnya.(Wartawan Harian Jogja/Andreas Tri Pamungkas)

http://harianjogja.com/beritas/detailberita/HarjoBerita/23980/pedetnya-berkaki-tiga-ahmadi-tak-tidur-view.html

Menikmati Malam di Yogya bersama Kopi Joss

Tahukah anda sebuah tempat di Yogya tempat mahasiswa,komunitas cyber seperti blogger dan chatter, wartawan, seniman,budayawan, tukang becak, hingga penjaja cinta bisa berbincang santai?
Jika anda pernah belajar di Yogyakarta, dimana anda dulu berembug bersama teman tentang tema skripsi atau tugas sekolah? Di antara sekian tempat yang anda sebutkan, pasti angkringan Lik Man yang terletak di sebelah utara Stasiun Tugu menjadi salah satunya. Wajar, sebab tempat itu telah menjadi favorit banyak orang.

Angkringan Lik Man dikelola oleh putra Mbah Pairo, penjual angkringan pertama di Yogyakarta. Memiliki minuman khas Kopi Joss, angkringan ini pernah menjadi tempat melewatkan malam sejumlah tokoh terpandang di Indonesia.

Anda bisa berjalan ke utara dari arah Malioboro atau Stasiun Tugu hingga menemukan jalan kecil ke arah barat, kemudian berbelok. Anda akan menemukan angkringan yang dimaksud tak jauh dari belokan, tepatnya di sebelah kiri jalan. Cirinya, ada dua buah bakul yang dihubungkan dengan bambu, anglo dengan arang yang membara, serta deretan gelas yang ditata.

Angkringan Lik Man merupakan angkringan legendaris, sebab pedagangnya
adalah generasi awal pedagang angkringan di Yogyakarta yang umumnya berasal
dari Klaten. Lik Man yang bernama asli Siswo Raharjo merupakan putra Mbah Pairo,
pedagang angkringan pertama di Yogyakarta yang berjualan sejak tahun 1950-an.
Warung berkonsep angkringan yang dulu disebut 'ting ting hik' diwariskan kepada
Lik Man tahun 1969. Sejak itu, menjamurlah angkringan-angkringan lain.

Begitu sampai di angkringan yang buka pukul 18.00 ini, anda bisa memesan bermacam minuman yang ditawarkan, panas maupun dingin. Pilihan minuman favorit adalah Kopi Joss, kopi yang disajikan panas dengan diberi arang. Kelebihan kopi itu adalah kadar kafeinnya yang rendah karena dinetralisir oleh arang. Tak usah khawatir itu hanya mitos, sebab Kopi Joss lahir dari penelitian mahasiwa Universitas Gadjah Mada yang kebetulan sering nongkrong di Angkringan Lik Man.

Berbagai makanan juga disediakan, ada sego kucing berlauk oseng tempe dan sambal teri hingga gorengan dan jadah (makanan dari ketan yang dipadatkan berasa gurih) bakar. Sego kucing di Angkringan Lik Man yang harganya Rp 1.000,00 tak kalah lezat dengan masakan lainnya sebab nasinya pulen dan oseng tempe dan sambal terinya berbumbu pas. Menikmati sego kucing yang selalu disajikan dalam keadaan hangat dengan lauk gorengan atau sate telur selain lezat juga tak menguras uang.

Jika menjumpai makanan dalam keadaan dingin, anda dapat meminta penjual untuk menghangatkannya dengan cara dibakar. Lauk pauk yang menjadi lebih lezat ketika dibakar adalah mendoan (tempe goreng tepung), tahu susur, tempe bacem, endas (kepala ayam) dan tentu saja jadah. Bila tak nyaman makan dengan bungkus nasi saja atau anda makan dalam jumlah banyak, penjual angkringan menyediakan piring untuk menyamankan acara makan anda.

Anda bisa memilih tempat duduk di dua tempat yang disediakan. Jika ingin berbincang dengan pedagang, anda bisa duduk di dekat bakul atau anglo. Selain dapat bercerita dengan Lik Man, duduk di dekat bakul akan mempermudah jika ingin tambah makanan. Tetapi bila ingin lebih berakraban dengan teman, anda bisa duduk di tikar yang digelar memanjang di trotoar seberang jalan. Tak perlu khawatir ruang yang tidak cukup sebab panjang trotoar yang digelari tikar hampir 100 meter.

Sambil duduk, anda diberi kebebasan untuk berbicara apapun. Orang-orang yang sering datang ke angkringan ini membicarakan berbagai hal, mulai tema-tema serius seperti rencana demostrasi dan tema edisi di majalah mahasiswa hingga yang ringan seperti kemana hendak liburan atau sekedar tertawaan tak jelas yang sering disebut dengan gojeg kere. Tak ada larangan formal, tetapi yang jelas perlu menjaga budaya angkringan, yaitu tepo sliro (toleransi), kemauan untuk berbagi dan biso rumongso (menjaga perasaan orang lain). Bisa diartikan tak perlu berebut tempat dan menghargai orang lain yang duduk berdekatan.

Sejumlah tokoh terpandang telah menjadikan Angkringan Lik Man sebagai tempat menikmati malam. Ada Butet Kertarajasa, Djaduk Ferianto, Emha ainun Nadjib, Bondan Nusantara hingga Marwoto. Maka, tak seharusnya anda melewatkan suasana malam kota Yogyakarta tanpa berkunjung ke Angkringan Lik Man. Nikmatilah nuansa yang pernah dinikmati oleh banyak orang Yogyakarta dan sejumlah tokoh yang disebut di atas.

sumber:http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/traditional-culinary/angkringan-lik-man/

Rabu, 13 April 2011

Jembatan Gantung, Alternatif Wisata di Imogiri